Apa Itu Sembahyang


Dalam kehidupan beragama, istilah sholat dan sembahyang sering kali dianggap sama. Keduanya merujuk pada aktivitas ibadah seorang hamba kepada Tuhannya. Namun, bila kita menelusuri lebih dalam, maknanya ternyata tidak sesederhana itu. Ada kedalaman batin yang membedakan antara sholat dalam pengertian hakikat dan sembahyang dalam pengertian lahiriah.

Sembahyang adalah perwujudan dari dorongan jiwa untuk menghamba. Ia lahir dari sifat malakut di dalam diri manusia — sisi spiritual yang senantiasa mengingat dan mencari sumber asalnya, yaitu Tuhan. Dalam sembahyang, seorang manusia berusaha menghadirkan kesadaran seolah-olah Tuhan ada di hadapannya. Inilah yang disebut ihsan — beribadah “seolah-olah engkau melihat Tuhan”. Namun, ihsan sejatinya belum berarti benar-benar melihat Tuhan, melainkan masih dalam ranah bayangan spiritual, atau khayali ketuhanan.

Sembahyang, dengan demikian, adalah gerak kesadaran manusia yang terus berusaha mendekat kepada Tuhan, melalui rasa, doa, dan penghambaan.

Sedangkan sholat dalam makna yang lebih dalam berasal dari kata sholu, yang berarti tersambung atau terhubung. Sholat bukan lagi sekadar gerak tubuh, bukan hanya ritual lima waktu yang terikat ruang dan waktu, melainkan keadaan jiwa yang senantiasa menyatu dengan Kehadiran Ilahi. Dalam tingkat ini, seorang hamba tidak lagi merasa terpisah dari Tuhannya. Ia hidup dalam kesadaran yang terus terhubung — 24 jam tanpa henti — dalam setiap tarikan napas, setiap langkah, dan setiap denyut hati. Inilah sholat dalam makna hakikat: daiman abada, abadi tanpa jeda.

Maka, sholat bukan hanya ritual, tetapi keadaan menyatu. Bukan sekadar bacaan, tetapi kesadaran. Bukan hanya kewajiban, tetapi hubungan yang hidup antara hamba dan Tuhannya.

Pada akhirnya, sembahyang adalah jalan menuju sholat, dan sholat adalah puncak dari sembahyang. Dari bentuk menuju makna, dari gerak menuju kesadaran.

Maka, fahamilah — apa itu sholat, dan apa itu sembahyang.

Dilihat : 0 Kali

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)