SEREMONI WISUDA TK , APA MANFAATNYA?


Di balik senyum manis anak-anak TK yang mengenakan toga, berdiri tegak dengan latar spanduk bertuliskan “Wisuda Kelulusan TK”, tersimpan satu kenyataan pahit: banyak orangtua yang mengeluh dan merasa terbebani oleh biaya acara tersebut.

Salah satu orangtua di desa kecil kami bahkan harus meminjam uang sebesar Rp500 ribu hanya untuk mengikuti acara wisuda TK anaknya. “Kalau tidak bayar, anak saya tidak bisa ikut wisuda katanya,” keluhnya. Jumlah itu belum termasuk biaya lain-lain seperti pakaian adat, konsumsi, sewa gedung, atau keperluan foto.

Bayangkan, Rp500 ribu bagi sebagian keluarga adalah angka besar. Apalagi untuk keluarga petani dan buruh harian lepas, dengan penghasilan pas-pasan dan anak lebih dari satu. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, ketika harga hasil pertanian terus anjlok, biaya sebesar itu bisa lebih bermanfaat untuk keperluan sekolah lanjutan: beli seragam, buku, tas, atau menabung untuk masuk SD.

Lalu muncul pertanyaan mendasar: apa sebenarnya manfaat dan urgensi dari acara wisuda TK?

Apakah anak TK memang benar-benar memahami apa itu “kelulusan”? Apakah mereka mengerti bahwa mereka sedang “diwisuda”? Bukankah dunia mereka masih dipenuhi dengan permainan, belajar menyanyi, menari, dan mewarnai?

Sebuah acara kelulusan tentu bisa dimaknai sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian anak-anak. Tapi apakah harus semewah dan semahal itu? Apakah benar itu demi kebahagiaan anak, atau sebenarnya hanya demi kepentingan dokumentasi sekolah dan tuntutan gengsi yang tidak semua keluarga bisa jangkau?

Banyak orangtua sebenarnya ingin bersuara, tapi takut dianggap “tidak mendukung anak”, “tidak peduli pendidikan”, atau “mencemarkan nama baik sekolah”. Padahal suara mereka mewakili jeritan mayoritas: acara wisuda TK lebih banyak jadi beban daripada manfaat.

Kami tidak menolak apresiasi. Kami juga ingin anak-anak kami bahagia. Tapi bentuk apresiasi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih sederhana dan bermakna. Misalnya dengan kegiatan perpisahan di kelas, penampilan kecil di sekolah, atau pemberian piagam tanpa harus menyewa toga dan panggung.

Mungkin sudah saatnya Dinas Pendidikan mengkaji ulang dan mengatur kembali tradisi wisuda di jenjang TK. Bukan untuk melarang apresiasi, tapi agar tidak membebani ekonomi keluarga dan lebih mengedepankan esensi pendidikan usia dini: bermain, belajar, dan tumbuh dalam cinta, bukan dalam tekanan biaya.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal seragam atau seremoni. Tapi soal kesiapan anak melangkah ke jenjang berikutnya, dengan gembira dan tanpa beban yang harus ditanggung orangtuanya.

Dilihat : 0 Kali

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)