Terkadang, kita terlalu cepat menarik kesimpulan. Telinga kita bisa saja salah dengar, mulut kita bisa keliru ucap, dan hati kita pun tak selalu tepat dalam menduga.
Pernahkah kamu merasa disakiti oleh ucapan seseorang, lalu setelah diselidiki, ternyata maksudnya bukan seperti itu? Atau pernahkah kamu mengucapkan sesuatu yang terdengar salah di telinga orang lain, padahal niatmu benar-benar tak seperti itu?
Kita adalah manusia, tempatnya salah dan lupa. Maka, memaafkan dan menahan diri seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Telinga Bisa Salah Dengar
Tidak semua yang kita dengar adalah kebenaran utuh. Kadang, emosi membuat kita mengartikan sesuatu secara berbeda. Nada bicara yang sedikit tinggi bisa kita rasa sebagai bentuk marah, padahal bisa jadi hanya karena lelah. Kata-kata yang terdengar dingin bisa jadi hanya karena sedang tak enak badan, bukan karena ingin menyakiti.
Kita lupa bahwa persepsi tak selalu sama dengan kenyataan.
Mulut Bisa Salah Ucap
Siapa yang tak pernah salah bicara? Sering kali, niat kita baik tapi cara menyampaikannya kurang tepat. Kita pikir sedang membantu, ternyata terdengar menggurui. Kita bermaksud bercanda, tapi lawan bicara merasa direndahkan.
Satu kata yang terlepas tanpa disaring bisa melukai hati orang lain, tapi begitu juga sebaliknya kata yang kita dengar bisa terasa tajam, padahal mungkin bukan itu maksud sebenarnya.
Hati Bisa Salah Duga
Hati kita adalah tempat rasa, tapi juga tempat prasangka. Dan prasangka sering kali tumbuh subur di lahan komunikasi yang kurang. Saat kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kita mulai menebak. Sayangnya, tebakan itu sering lebih dikuasai rasa curiga daripada husnuzan (berprasangka baik).
Hati bisa salah menilai seseorang hanya karena satu peristiwa. Kita lupa, bahwa setiap orang punya kisah yang tidak kita tahu. Setiap orang sedang berjuang dengan sesuatu yang mungkin tak terlihat.
Maka, Jangan Cepat Benci dan Jangan Cepat Marah
Belajarlah untuk memperlambat reaksi. Ambil jeda sebelum menyimpulkan. Tahan lisan sebelum membalas. Dan yang paling penting belajarlah untuk melihat dari sudut pandang orang lain.
Mungkin, yang kita anggap menyakitkan hanyalah hasil dari kesalahpahaman. Mungkin, yang kita anggap musuh hanyalah seseorang yang sedang lelah. Dan mungkin, yang kita sangka tidak peduli... justru sedang sangat berusaha memahami kita.
Tidak semua hal perlu dibalas dengan amarah. Tidak semua kesalahan pantas dibalas dengan kebencian. Karena saat kita memilih untuk tenang, memberi ruang, dan mencoba memahami kita sedang memberi kesempatan bagi hubungan untuk tumbuh dan hati untuk sembuh.
Penutup
Mari menjadi manusia yang lebih pelan dalam menilai, lebih sabar dalam merespons, dan lebih bijak dalam merasa. Karena di balik setiap ucapan dan tindakan, ada ruang yang luas untuk kesalahan. Dan di sanalah, kita belajar tentang memaafkan.

