Perjalanan Menuju Sidratul


Sidratul Muntaha merupakan titik tertinggi yang dapat dijangkau oleh makhluk sebelum memasuki alam yang hanya bisa dijangkau oleh Allah SWT. Dalam konteks perjalanan spiritual, untuk mencapai Sidratul Muntaha, seseorang harus melewati tahapan-tahapan tertentu yang melibatkan penyucian diri dan peningkatan kesadaran.

1. Makna Sidratul Muntaha

  • Sidrat berasal dari kata "sidrah" yang berarti pohon bidara, yang dalam konteks spiritual melambangkan kesadaran tertinggi.
  • Muntaha berarti puncak atau titik tertinggi.
  • Sehingga Sidratul Muntaha dapat dimaknai sebagai puncak kesadaran yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah mensucikan diri secara lahir dan batin.

2. Langkah-Langkah Menuju Sidratul Muntaha

Sebelum mencapai Sidratul Muntaha, seseorang harus melalui tujuh titik latifah atau tujuh lapisan dalam diri (peta bumi atau jasad).

  • Tujuh lapisan ini harus disucikan terlebih dahulu dengan zikir, yang berfungsi membersihkan hati dan meningkatkan kesadaran spiritual.
  • Langit dalam Islam sering dimaknai sebagai sesuatu yang berada di dalam diri manusia. Oleh karena itu, perjalanan spiritual ini digambarkan sebagai naiknya Buraq dari langit pertama hingga langit ketujuh.

3. Simbolisme Buraq dalam Perjalanan Spiritual

Buraq, sebagai kendaraan Rasulullah SAW dalam Isra Mi'raj, memiliki makna simbolis:

  • Memiliki empat kaki, yang melambangkan empat tahapan perjalanan spiritual:
    1. Syariat (hukum Islam yang lahiriah)
    2. Tarekat (jalan spiritual yang lebih dalam)
    3. Hakikat (pemahaman esensial tentang Allah)
    4. Makrifat (pengetahuan tertinggi tentang Allah)
  • Kepala Buraq berbentuk manusia, melambangkan akal dan kesadaran manusia.
  • Dari leher ke bawah seperti hewan, melambangkan hawa nafsu manusia yang harus dikendalikan.
  • Memiliki dua sayap, melambangkan kemampuan spiritual yang bisa membawa seseorang naik ke tingkatan yang lebih tinggi.

4. Sidratul Muntaha dalam Al-Qur'an

Sidratul Muntaha disebutkan dalam Surah An-Najm ayat 14 sebagai tempat di mana Nabi Muhammad SAW melihat Jibril dalam bentuk aslinya:

“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratul Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14)

Keberadaannya dekat dengan surga, sebagaimana ayat:

“Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.” (QS. An-Najm: 13-14)

5. Hakikat Sidratul Muntaha

  • Dalam tafsir, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai pohon terakhir tempat arwah para syuhada yang mendapatkan rezeki dari Allah.
  • Pohon ini berada di atas langit ketujuh, di sebelah kanan ‘Arasy.
  • Daun-daunnya seperti kuping gajah, buahnya sebesar kendi, dan dahan-dahannya terbuat dari mutiara, yaqut, dan zabarjad. (Tafsir Muqatil bin Sulaiman, Juz IV/160).

6. Peristiwa di Sidratul Muntaha

Setibanya di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW mengucapkan salam:

"At-tahayiyyatul mubarakatus shalawatu lillah."

Kemudian Allah menjawab:

"Assalamu alaika ayyuhan-nabiyy warahmatullahi wabarakatuh."

Lalu Rasulullah SAW menjawab lagi:

"Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahis shalihin."

Inilah asal mula bacaan tahiyat dalam sholat, yang hingga kini kita baca sebagai umat Islam. (Tafsir az-Zamarqandi, Juz I/189).

Selain itu, di Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW juga menerima perintah sholat lima puluh waktu. Namun, atas saran Nabi Musa AS, jumlahnya dikurangi hingga akhirnya menjadi lima waktu, yang memiliki keutamaan setara dengan lima puluh waktu. (Tafsir Yahya bin Salam, Juz I/104).

7. Hakikat Perjalanan Menuju Tuhan

Ketika seseorang mencapai Sidratul Muntaha, ia akan:

  • Terheran dan terkagum setelah menemukan Tuhan yang sebenar-benarnya, bukan sekadar mengenal nama-Nya atau membaca Iqra dengan lisan saja.
  • Tempat ini menjadi batas tertinggi yang dapat dicapai makhluk sebelum memasuki wilayah yang hanya dapat dijangkau oleh Allah SWT.

Allah berfirman:

"Sungguh dia (Muhammad) benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar." (QS. An-Najm: 18)


Kesimpulan

Sidratul Muntaha adalah titik puncak perjalanan spiritual, yang hanya bisa dicapai setelah melalui tahapan penyucian diri. Perjalanan ini melibatkan:

  1. Melewati 7 titik latifah dalam diri yang harus dibersihkan dengan zikir.
  2. Buraq sebagai simbol kendaraan spiritual yang memiliki unsur syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.
  3. Sidratul Muntaha sebagai puncak kesadaran, di mana manusia benar-benar mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya.
  4. Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha menerima salam Allah, perintah sholat, dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Semoga pemahaman ini bisa menjadi refleksi bagi kita untuk terus meningkatkan kesadaran spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dilihat : 0 Kali

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)