Asal-Usul Panggilan “Gus”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Gus” adalah nama panggilan untuk anak laki-laki, khususnya putra kyai atau pemimpin pesantren. Gelar ini memiliki akar yang dalam di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama (NU), terutama di Jawa Timur. Syamsul Bakri, Guru Besar Ilmu Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, menjelaskan bahwa panggilan “Gus” berasal dari tradisi Jawa Timur dan awalnya digunakan untuk putra kyai, sementara putri kyai disebut “Ning”.
Pada masa Kerajaan Mataram, sebutan “Gus” mulai muncul dari hubungan erat antara kyai dan raja-raja Jawa. Anak-anak kyai yang tinggal di lingkungan masjid kerajaan atau Kauman kerap dipanggil “Gus” sebagai tanda penghormatan. Istilah ini membedakan mereka dari keturunan bangsawan yang lazimnya diberi gelar “Raden Mas”.
Meluasnya Penggunaan Gelar “Gus”
Seiring perkembangan zaman, panggilan “Gus” tidak lagi terbatas pada anak kyai. Gelar ini kini sering digunakan untuk tokoh agama atau mubaligh yang dihormati. Namun, Syamsul Bakri menegaskan bahwa penggunaan gelar ini tidak selalu mencerminkan tingkat keilmuan agama seseorang.
Sosiolog Drajat Tri Kartono dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta juga mengaitkan istilah “Gus” dengan tradisi keraton. Dalam budaya keraton, istilah “Bagus” digunakan untuk tokoh-tokoh dengan budi pekerti luhur, seperti Sri Susuhunan Pakubuwono IV yang dijuluki Sunan Bagus atau pujangga besar Ranggawarsita yang dikenal sebagai Bagus Burhan.
Simbol Nilai Luhur
Kini, meski telah meluas penggunaannya ke berbagai wilayah di luar Jawa Timur, gelar “Gus” tetap menjadi simbol penghormatan terhadap seseorang yang berilmu, sopan santun, dan berkarakter luhur. Drajat Tri Kartono menyebut istilah ini sebagai bentuk penghargaan terhadap mereka yang dianggap memiliki pengetahuan mendalam dan keutamaan budi pekerti.
“Ini adalah wujud penghormatan terhadap mereka yang memiliki pengetahuan mendalam, sopan santun, dan karakter yang luhur,” ujar Drajat.
Warisan yang Terus Hidup
Sebagai bagian dari tradisi pesantren dan budaya Jawa, panggilan “Gus” bukan hanya soal gelar, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kehadirannya memperkaya khazanah budaya dan menjadi pengingat akan pentingnya penghormatan terhadap ilmu, kebijaksanaan, dan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.
(*)

